20 Desember 2008

dewabrata: 3 teknik nlp

dewabrata: 3 teknik nlp

MASA DEPAN TERGANTUNG DARI APA YANG DIFIKIRKAN SEKARANG.

08 April 2008

What is NLP (Neuro Linguistic Programming)?

A. Definisi-definisi NLP

NLP is the study of Human Excellence
NLP adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang individu dapat menggali potensi diri maupun keunggulan untuk dapat menjadi yang terbaik.
NLP is the study of Human Modeling
NLP adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana orang-orang hebat berprestasi dan meraih kesuksesan/ keunggulan dalam bidangnya dan menguraikannya secara ilmiah untuk dimodel/ditiru.
NLP is the study of Human BehaviourPernahkah kita melakukan sesuatu dengan hasil yang sangat luar biasa? Pernahkah kita begitu bangga dan puas atas apa yang telah kita lakukan dan bertanya bagaimana kita melakukannya?
NLP dapat menunjukkan kepada kita bagaimana mengetahui dan memodel kembali kesuksesan, sehingga kita dapat memiliki kembali saat-saat sukses tersebut.

B. Perkembangan NLP
NLP lahir dari memodel 3 terapis ternama di era thn 1970 antara lain Dr. Fritz Perls (pencipta metode Gestalt therapy), Virginia Satir ( Family terapist) dan terakhir Milton Erickson MD ( dikenal sebagai the Founding Father of modern Hypnotherapy yang sangat terkenal di kalangan hypnotherapist dunia)NLP diciptakan oleh dua orang amerika yang bernama Richard Bandler dan John Grinder pada tahun 1970-an. John Grinder adalah seorang Profesor Ilmu Bahasa di Universitas Santa Cruz di California, sedangkan Richard Bandler adalah seorang mahasiswa yang mempelajari ilmu Matematika dan Komputer pada Universitas yang sama.Richard Bandler menemukan bahwa ia sangat berbakat dalam hal meniru/memodel orang. Bandler yakin bahwa ia dapat menemukan dan meniru pola-pola dalam teknik Gestalt Therapy dari Fritz Perls, walau dengan hanya sedikit pola( hanya dengan meniru postur tubuh dan suara), Bandler mampu mengaplikasikanya pada kliennya dan hasilnya sangat menakjubkan.Setelah mendapatkan hasil yang cepat dan luar biasa dari peniruan tersebut, Bandler menyadari bahwa ia dapat juga memodel orang lain. Dengan dorongan dari John Grinder, Bandler pun berkesempatan meniru/memodel Virginia Satir seorang famili terapi dunia yang terkenal, dan kali ini Bandler dengan cepat dapat mengenal pola-pola yang di pakai oleh Virginia. Setelah itu ia dan John Grinder menerapkan pola-pola Virginia Satir untuk menangani kliennya.Model ke tiga yang di tiru oleh Bandler adalah Milton Erickson, MD. Seorang hypnotherapy, Bandler memodel Erickson dan hasil yang di dapat juga sama dengan hasil Erickson.
Dari pengalaman-pengalaman di atas dan penelitian-penelitian mereka, akhirnya Bandler dan Grinder menciptakan sebuah metode yang mereka beri nama NLP ( Neuro Linguistic Programming) yang artinya sebuah model komunikasi verbal maupun non verbal dengan otak bawah sadar untuk menciptakan sebuah pola yang efektif untuk merubah prilaku seseorang.
Beberapa tokoh pemakai metode NLP:
1. Anthony Robbins ( Pembicara Top dari USA)
2. Daniel Goleman ( penulis buku best seller Emotional Quotient)
3. Andre Agassi ( Petenis dunia)
Sejak itu metode NLP mulai diterapkan di beberapa bidang seperti:
1. Personal Development
2. Bisnis
3. Kepemimpinan
4. Olah raga
5. Terapi fobia dan trauma Kesehatan

Bagaimana NLP bisa menggali potensi diri manusia?
Sesuai dengan arti harafiah dari NLP (Neuro Lingusitic Programming) yang kalau diterjemahkan secara sederhana maka akan berarti sebuah metode/cara berkomunikasi dengan saraf (otak). Dengan mengetahui metode atau cara berkomunikasi maka kita bisa mengakses ke bagian kreatifitas dalam diri kita untuk dapat menggali potensi diri. Sebagai contoh dibawah ini adalah beberapa manfaat oleh para peserta dari pelatihan NLP yang saya adakan:
1. Peningkatan percaya diri
2. Menggali potensi diri untuk menjadi yang terbaik
3. Menghilangkan kebiasaan buruk yang menghambat
4. mengubah keyakinan yang menghambat menjadi keyakinan yang memberikan kekuatan bagi kita
5. Penemuan jati diri atau identitas diri Ketrampilan berkomunikasi

By : Tommy Siawira
(Certified NLP Trainer and Coach from NLP University from California)

12 Maret 2008

MEMANFAATKAN FUNGSI LUHUR OTAK

MEMANFAATKAN FUNGSI LUHUR OTAK UNTUK PELATIHAN DAN PENYEMBUHAN PENYAKIT
Oleh : dr. Widayanto, M.Kes

Pendahuluan:

Perilaku manusia dipengaruhi oleh dua hal yaitu fokus perhatian dan keadaan fisiologi orang tersebut. Perubahan pengaruh fokus perhatian dan perubahan keadaan fisiolgis tersebut tidak langsung merubah perilaku, tetapi melalui suatu keadaan tertentu, yang disebut STATE.
Pelatihan Eksperimental “MEMANFAATKAN FUNGSI LUHUR OTAK” adalah suatu pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh individu tersebut. Salah satu potensi yang dimiliki oleh setiap individu adalah otak.
Manusia selama hidupnya paling banyak mempergunakan 2 % dari kemampuan otaknya. Sehingga pelatihan ini dimaksud untuk meningkatkan sebanyak mungkin pemanfaatan otak. Pelatihan ini merupakan modifikasi pelatihan NLP (Neuro Linguistic Programing) yang saat ini sedang sangat diminati di seluruh dunia.
Penggagas NLP--Richard Bandler yang pakar matematika dan programming komputer dan John Grinder yang profesor linguistik--merumuskan NLP sebagai the study of subjective experience. Keduanya mengembangkan dasar-dasar ilmu dan teknis penerapannya sejak tahun 1970-an.
Neuro merujuk pada otak atau pikiran dan bagaimana orang mengorganisasikan kehidupan mentalnya. Lingusitic tentang bahasa dan bagaimana orang menggunakannya dalam kehidupan. Sedangkan programming tentang urutan proses mental yang berpengaruh pada perilaku dalam mencapai tujuan dan bagaimana memodifikasinya.
Awalnya pencipta NLP mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang amat sukses di bidangnya. Misalnya Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (terapis keluarga), Gregory Bateson (antropolog dan sibernetik) dan Milton Erickson (hipnoterapis).
Metode yang digunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut ilmu meniru (modelling). Setelah bertahun-tahun memodel, keduanya berhasil mengembangkan teknik mental yang sangat berguna bagi dunia terapi. Oleh keduanya ilmu ini dikembangluaskan untuk meniru berbagai keunggulan manusia yang berkiprah di berbagai bidang.
Dalam perkembangannya NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins sehingga dikenal di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Nama besar yang tercatat menggunakan NLP untuk meraih kesuksesannya adalah Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, Nelson Mandela dan Robert Kiyosaki.
Singkat cerita dari dua tokoh pendiri itu selanjutnya berkembang sejumlah “aliran” besar NLP dengan modifikasi dan sebutannya. Sejak aliran Neuro Associative Conditioning (NAC) Anthony Robbins, New Code NLP dari Grinder, hingga pengembangan NLP ke arah DHE (Design Human Engineering) oleh Bandler yang menyebut alirannya sebagai Pure-NLP. Selain itu ada Michael Hall dan Bob Bodenhamer mengembangkan NLP menjadi Neuro Semantics (NS) atau Meta NLP. Yang terakhir ini biasanya digolongkan aliran akademis. Tokohnya akademis NLP lainnya adalah pendiri NLP University (NLPU) Robert Dilts. NLPU yang berkedudukan di California merupakan salah satu komunitas NLP terbesar dari ratusan komunitas yang ada di dunia.
Sedangkan dedengkot (pengembang) NLP jumlahnya hingga kini kurang dari 100 orang. Selain nama yang telah disebut ada Steve Andreas, Judith De-Lozier, Leslie-Cameron Bandler, Joseph O’Connors, John LaValle. Bicara aliran NLP tidak dimaksudkan untuk memperbandingkan mana yang terbaik, namun untuk merunut arah pengembangan yang cenderung spesifik.
Beberapa orang Indonesia, seperti Tosan Lim, Stevanus dan Agus Sunaryo, adalah lulusan NLPU. Yang merupakan lulusan NAC (Robbins) adalah Tung Desem Waringin dan Ronald. Selain itu ada yang mengusung berbagai aliran seperti Wiwoho, Khrisnamurti dan Leksana.
Sedangkan yang bisa memberikan sertifikasi Neuro Semantic NLP Practitioner di Indonesia adalah Mariani Ng. RH Wiwoho.
Kami di RSU Banyumas mengembangkan NLP untuk metode training bagi karyawan melalui BEST (Blakasuta Excellent Service Training) yang saat ini sudah memasuki 21 angkatan dan diikuti oleh beberapa RS di Indonesia. BEST ini meliputi pelatihan pelayanan prima dengan sentuhan hati nurani, membangkitkan karyawan sebagai pribadi dan anggota organisasi yang siap melayani.
Tentu saja masih ada individu lain yang saya tidak terlalu mengenalnya namun juga pelatih NLP. Mereka semua menawarkan program seminar atau pelatihan ke publik berbentuk aplikasi NLP, dan ada yang menangani permintaan dari perusahaan. Secara umum permintaan training NLP ini sedang dan terus meningkat pesat hingga beberapa tahun mendatang. Yang terpenting adalah memahami soal model. Penjelasannya gambar manusia dengan otaknya. Apa pun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, lidah, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) ke sistem syaraf dan dibawa ke otak. Fakta yang ada di luar diri disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory.
RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya dunia psikologi diawal perkembangannya (Psikoanalisis, Behaviorisme, dll), gagal memahami hal ini. Bahwa manusia tidak bereaksi terhadap RE, tapi dia bereaksi terhadap RI-nya sendiri. Baru psikologi mahzab keempatlah yang memahami fenomena ini. Mahzab Behaviorisme gagal di sini. Dan NLP awalnya muncul merupakan reaksi terhadap behaviorisme yang menganggap manusia seolah tak punya daya/pilihan untuk memberikan respons berbeda pada suatu stimulus yang sama.
Contoh lain saya teriak “asu” ke Anda. Realitanya kan cuma ujaran satu kata itu. Tapi begitu masuk pikiran, tergantung Anda mengartikannya. Kalau RI Anda mengatakan Wid ini sedang guyon, Anda akan tertawa. Kalau RI Anda mengatakan, ”ke orang lebih tua kok bilang begitu kurang ajar,” Anda akan marah.
Marah tidaknya Anda berarti kan tidak tergantung ujaran “asu” tadi. Tapi tergantung bagaimana Anda memaknai ucapan itu. Nah ketika RE diberikan makna melalui suatu proses tertentu, maka itu kemudian menjadi RI. Jadi map is not the territory, peta bukanlah yang sebenarnya atau RI bukanlah RE. Sedihnya, manusia sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya bereaksi (berespon) terhadap RI, tapi mereka mengira reaksi (respon) mereka adalah terhadap RE.
Dulu kita sering mendengar istilah “success is the mind game”, sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya it doesn’t matter with RE, yang penting RI-nya. Efektif tidak orang itu memahami RE? Ini basic NLP. Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah.
Kebanyakan yang sakit jiwa adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak. Kalau orang gila bener-bener RI dikira RE. Wong edan RI dikira RE. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih untuk membuat (menciptakan pilihan) RI secara sadar terhadap suatu RE. Core NLP adalah menguasai berbagai tools mengenai RI. Intinya nguplek-uplek RI, milik sendiri ataupun punya orang lain. Makanya di buku NLP Vol 1, Bandler menyebut bahwa NLP adalah the study of subjective experience atau NLP adalah kajian tentang pengalaman subjektif atau RI.
Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.
Misalnya, dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri. Terus Anda diminta presentasi di depan BOS nggak pede. Saya (dengan menggunakan NLP) bisa membantu mengambil pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu me-modelling diri sendiri.
Memodel orang lain juga bisa. Kita bisa meniru Walt Disney, orang lain yang masih hidup. Bahkan pionir NLP Robert Dilts dalam artikelnya di www.NLPU.com menulis cara untuk dapat memodel keunggulan Yesus dalam hal wisdom (buka http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm). Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis. Dalam kaitan ini NLP tidak mengakui adanya bakat, yang supranatural sekali pun. Bakat adalah strategi atau urutan proses mental yang efektif dan bisa ditiru. Orang bisa punya bakat, yang seolah-olah turunan, karena dibiasakan atau terbiasa melihat bapaknya atau entah siapa. Secara unconscious hal itu menularkan pola pemikiran yang efektif.

Tools atau perkakas NLP yang lain.
Perkakas yang lain antara lain klarifikasi, anchor, reframing dan metafor. Ada ratusan tools, teknik atau pola-pola yang siap pakai. Nah kebanyakan orang di dunia itu cuma belajar tools tapi mengira sudah mengetahui NLP. Diajari teknik presentasi dengan NLP, setelah itu mengklaim saya sudah tahu NLP. Sedihnya kalau mereka merasa gagal, dibilang NLP nggak jalan. Ibaratnya orang yang baru membaca buku psikologi praktis terus merasa sudah tahu psikologi, kalau gagal dia bilang “…alah psikologi nggak jalan kok.” Padahal yang diketahui sebenarnya hanya satu teknik di psikologi.
Tools ini hanya hasil akhir paling praktis yang paling gampang dilihat. Memang ini penting, tapi kalau itu saja yang dilihat terus menyimpulkan “NLP tidak jalan” itu kan sama saja bohong. Jika diibaratkan di bidang teknik, maka orang yang seperti itu hanya jadi semacam tukang saja.
Sedangkan bila menguasai ilmu NLP kita bisa jadi orang yang mampu menciptakan semua perkakas yang akan dipergunakan oleh para tukang. Kalau hanya belajar tools, kita hanya jadi tukang batu atau tukang kayu. Singkatnya belajar NLP adalah bahkan belajar menciptakan perkakas baru. Perbandingannya diberi pancing dengan diberi ikan.
Esensi yang terpenting itu saja dan selebihnya merupakan sejumlah terminologi dan teknik yang Anda harus dengan cepat menguasai. Saat belajar tools NLP, orang juga juga sering bingung karena banyaknya istilah, seperti di disiplin lain, yang satu sama lain kadang artinya bertabrakan atau malah tak berhubungan sama sekali.
Misalnya anchor, yang artinya jangkar, dipakai sebagai istilah lain untuk picu. Istilah “through time” dalam Time-Line Therapy sering membingungkan jika disejajarkan dengan istilah “in time”, istilah “submodality” dalam NLP sering diperbandingkan dengan “meta-modality” dalam Neuro Semantic dan lain-lain.
Saat Anda belajar apapun, lumrahnya tanpa sadar melalui empat tahap. Unconscious-incompetent, kedua conscious-incompetent, lalu conscious-competent dan terakhir unconcious-competent. Kalau tidak bisa nyetir, Anda tidak tahu apa tepatnya yang tidak bisa, Anda tidak tahu apa yang Anda tidak mampu (unconscious-incompetent). Saat seseorang mulai belajar nyetir, dibilang harus begini begitu lho, mindah gigi persneling, melihat kaca spion, ngerem dan lain-lain, akhirnya Anda jadi sadar kalau tidak kompeten (conscious-incompetent).
Lantas Anda belajar secara bertahap untuk bisa nyetir. Saat baru bisa nyetir mobil pasti akan ingat langkah demi langkah sejak hidupin mesin, nginjak kopling, masukin gigi. Inilah kita sadar kalau kita mampu (conscious-competent), itu kan kondisi paling stres. Skill yang conscious itu kan paling tidak enak. Apapun yang baru kita kuasai, kita harus mikir dulu, kagok sebelum melakukannya. Setelah itu lama-lama menjadi unconscious-competent, ilmu itu sudah dikuasai bahkan di bawah sadar.
Jadi sudah seperti otomatis dilakukan. Jadi biasanya orang belajar melibatkan kesadaran (conscious), padahal goal-nya supaya apa yang dipelajari bisa dilakukan secara unconscious. Nggak mau kan nyetir mobil tapi conscious terus? Lewat NLP atau hipnotis tahap belajar itu bisa loncat, tanpa melalui tahap dua dan tiga, tak melibatkan kesadaran. Kan enak. Tahu-tahu kita bisa. Ini dinamakan unconscious installation, sekalipun di dalam aliran NS-NLP kurang diakui.
NLP juga membantu orang bisa melakukan pemercepatan belajar (accelerated learning), caranya dengan: mengoptimalkan ke lima indera supaya terlibat sehingga kedua belahan otak terlibat, menggunakan anchor, mengupayakan state of mind tertentu (meta state, dll), menggunakan bahasa hipnotik dan seterusnya. Jadi accelerated learning bukan hanya ilmu menggunakan musik untuk mengiringi belajar saja.
Keterampilan atau skill dalam istilah NLP adalah mind to body atau mind to muscle. Apa yang kita pikirkan sudah membodi dan masuk di masuk di kesadaran otot. Nah ini di unconscious juga dikelolanya. Bisa dikatakan semua mekanisme di tubuh kita ini pada prinsipnya kan dikelola di unconscious. Tubuh kita itu kan kata orang seperti gunung es: 12% alam sadar, 88% alam bawah sadar. Karena tubuh itu dikelolanya pada alam bawah sadar itulah teknik hipnotis bisa dimanfaatkan secara optimal.
Dalam NLP kita mengakses <>ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor, dan lain-lain. Di sini kita mulai mengerti, kenapa NLP sering disebut “demistifying tools”. Beberapa orang yang belajar NLP untuk mengolah kemampuan ini sering salah paham, mengira NLP adalah “klenik” atau dianggap aliran “New Ages” belaka.

Mengatasi kasus Fobia
Sekarang kita bicara tools. Fobia itu apa? Fobia itu selalu terjadi saat high atau peak emotion of experience. Saat emosinya puncak, di titik ini visualnya atau auditorialnya melihat sesuatu dan terkunci (locked). Orang yang fobia sama tikus karena saat melihat penginderaannya seperti terkunci pada objek itu.
Kalau dalam istilah NLP momen itu disebut V/K association atau visual kinesthetic association. Stimulus visual menimbulkan reaksi kinestetik tak terkontrol atau kepanikan luar biasa. Kemudian ketika RE-nya (tikusnya) sudah tidak ada, dikageti “Hi.. tikus” saja, ataumembayangkan tikus saja, dia sudah ketakutan dan megap-megap. Jadi membayangkan tikus pun takut. Membayangkan itu letaknya di RI kan. Begitu kita bisa mengubah RI-nya -tidak dengan nasehat, tapi dengan terapi- reaksi ketakutan itu akan berubah. Ibaratnya komputer, saat programnya diedit, di-save dan software-nya di-upload ulang, kan sudah berubah. Dari berbagai pelatihan bisa diuji bahwa ternyata memori dalam pikiran itu ada warnanya. Selama ini kita jarang menyimak soal ini. Biasanya memori yang kurang penting/tidak penting disimpan dalam bentuk ingatan hitam-putih, sedangkan memori yang penting disimpan dalam modus berwarna. Setiap orang beda-beda karena ada yang sebaliknya: yang tidak penting justru berwarna. Itu disebut sebagai blue-print..
Orang fobia tikus, biasanya memori-nya warna-warni dan “associated”. Prinsip penyembuhan fobianya adalah mengubah struktur memorinya. Kalau gambarnya semula berwarna-warni, jadikan hitam-putih sehingga jadi tidak penting. Jika semula associated, maka ubahlah menjadi dis-associated. Begitu pula kalau sebaliknya.
Kadangkala instruksinya ya di-zoom out gambarnya, digerakkan, didiamkan, terus dibuat lukisan, seperti itu. Bandingannya file yang kita simpan di komputer yang pasti punya atribut, yaitu hidden, archive, read only dan systems.
Kalau hidden-nya kita aktifkan, file-nya jadi tak kelihatan. Kalau di-off, jadi kelihatan. Kalau read only -nya dihidupkan tak bisa di-delete. Kan gitu. Memori manusia juga seperti itu. Warna hitam-putih. Bergerak atau diam. Jauh atau dekat. Atas atau bawah. Itu disebut submodality.
Itulah yang merepresentasikan bagaimana Anda mengorganisasi memori Anda. Saat pengorganisasiannya diubah, sifat memorinya pun berubah. Tentu saja harus dipermanenkan. Jadi saat tikus dijadikan hitam-putih warnanya terus diberi anchor dan dipermanenkan, begitu melek lagi, tikus tadi sudah bukan objek menakutkan. Itulah prinsipnya editing memori. Prinsip dasar mengubah submodality ini terutama untuk menyembuhkan orang trauma yang kalau dilakukan dengan benar akan mengubah drastis reaksinya. Begitu pula pada orang yang ingin berhenti merokok juga dengan mengubah submodality memorinya.
Ini untuk ingatan yang positif maupun negatif karena semua memori punya content dan konteks atau struktur. Fobia itu content-nya negatif yaitu cemas. Tapi konteks atau strukturnya positif. Positifnya : sekali dilihat, ingat seumur hidup. Masalahnya yang dilihat yang jelek.
Kalau itu content-nya diganti gimana? Nah mekanisme photoreading adalah seperti kejadian fobia ini. Sekali suatu buku dibaca maka akan diingat seumur hidup. Enak banget karena orang bisa ingat isi sebuah buku dari depan sampai belakang tanpa perlu membacanya halaman demi halaman. Kenyataannya ada orang berkemampuan memori fotografis seperti ini. Belajar photoreading dengan NLP adalah dengan cara memodel orang berkemampuan seperti memory-photografic itu, sehingga setiap orang biasa juga akan bisa melakukannya tanpa harus punya “bakat”.
Di rumahsakit aplikasi NLP sering diminta oleh pasien dalam persiapan menghadapi operasi agar lebih mantab menghadapinya. Bagi karyawan RS diperlukan agar mereka siap menghadapi segala macam perilaku pasien dalam menghadapi penyakitnya demikian pula keluarga pasien yang kurang kondusif. Karyawan RS menjadi lebih percaya diri dan happy menghadapi pasien-pasien yang ditemui.

Kesimpulan
Kemampuan otak manusia dengan bagian otak kiri dan bagian otak kanan dapat ditingkatkan. Bagian otak kiri yang mempunyai kemampuan untuk analitik dapat lebih optimal bila bekerjasama dengan otak kanan yang mempunyai daya imajinatif. Kemampuan kedua belahan otak ini harus dilatih secara terus menerus. Sebagian aktifitas manusia dilakukan secara tidak sadar (reflek), sehinga keadaan ketidaksadaran ini (uncounsius) juga perlu dilatih.

Kepustakaan:
http://www.Indonlp.com.
http://www.nlp.org.
http://www.pembelajaran.com.
http://www.psikotronik.com
http://www.psychotronic.org.
http://www.rsubanyumas.go.id
http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm



Mind Programming Techniques
Programming Techniques are special visualization and suggestion strategies that have been proven to be especially effective for specific purposes.
Most human problems are shared by a large percentage of the population. Many people bite their nails, have bad posture, have relationship problems, hate their supervisors, eat when they are not hungry, etc. Mental Programming Techniques have been developed to deal with these common problems. Most uncommon problems, however, can be adapted to one or more of these techniques. Some of these techniques, like "Swish", are particularly useful and can be adapted to almost every situation.

Note: Mind Programming Techniques are meant to be used with Alpha Programming sessions, where you do not have a recording that loop. Using these techniques with Theta sessions will probably just work to bring you back up to Alpha or Beta.

Index:
• The "Swish" Pattern
• Anchors / Triggers
• Using Color, Intensity & Position
• Using Objects & Symbolism
• Event Programming
• Modeling & Roles
• Your Mental Movie Projector
• Your Mental Workshop