15 Juni 2010

Dapatkah Kita Meningkatkan Kualitas Dari NLP Atau Jangan-jangan Sudah Terlambat?

Oleh : Michael Hall

Penterjemah : Tim NLP Into Action
Proof-Read : Tim NLP Into Action
Permasalahan

Baru-baru ini saya bertanya kepada sejumlah trainer NLP di Hong Kong, Mesir, Tokyo, Malaysia, dan Australia, “Apakah tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam praktek NLP dan bisnis Anda?” Dan jawabannya tidak hanya serupa dan mengejutkan, tetapi ini juga menyoroti tema umum yang tampaknya telah bergema di seantero dunia bagi orang-orang yang peduli tentang masa depan dari bidang ini, “Rendahnya mutu pelatihan dan praktek NLP.”
Saya kemudian bertanya tentang pembuktiannya. “Apa buktinya bahwa ada masalah mengenai rendahnya kualitas dari pengetahuan dan keterampilan dari NLP?”. Dan itu mencuatkan berbagai masalah. Yang paling sering dikatakan para trainer adalah mengenai orang-orang yang bersertifikat sebagai praktisi yang tidak pernah belajar Meta-Model sebagai sebuah model komunikasi (model pertama di bidang ini), tidak terlatih dalam hal strategi atau pemodelan (ini jantungnya NLP), dan yang menggabungkan berbagai praktek “New Age” yang mungkin menyenangkan, tapi sayangnya tidak ada hubungannya dengan NLP dan faktanya, ini membingungkan mereka tentang apa sebenarnya NLP itu.
Hasil diskusi saya dengan para trainer dan para pemimpin juga menunjukkan bahwa rendahnya kualitas NLP muncul ketika orang belajar NLP dari kursus korespondensi atau pembelajaran jarak jauh dan tidak ada tindak lanjut dari pengawasan pribadi yang mendalam yang menilai apakah seseorang memiliki kompetensi keterampilan dasar seperti state elicitation, anchoring, kalibrasi, pacing, precision questioning, strategy elicitation, mendeteksi meta-program seseorang, dll. Hal ini tampaknya akan menjadi masalah yang berkembang terus dalam bidang yang secara alamiah mensyaratkan pengalaman.
Rendahnya mutu NLP juga muncul melalui wujud-wujud lain. Itu muncul dalam bentuk : kurangnya kongruensi (kesesuaian) dalam diri para trainer yang mengajar dengan pendekatan “kelangkaan” dan “kompetisi” daripada “kelimpahan” dan “kerjasama”, merendahkan siapapun yang bukan bagian dari kubu/pihak mereka , yang “menjual” diri mereka sebagai satu-satunya NLP “asli”, serta mereka yang tidak menjalankan NLP dalam cara yang benar. Ini terlihat pada orang yang menjual NLP dan orang yang “di luar jangkauan” dalam pengembangan baru NLP selama lima belas tahun terakhir, dan pada orang yang tidak menyebutkan dari sumber mana ia mendapatkan pengetahuan tersebut . Dalam hal ini dan dalam banyak hal lain, kualitas pelatihan NLP tampaknya menderita hal ini di setiap tempat di dunia.
Tanpa suatu badan internasional yang diakui umum dalam melakukan pengaturan dan juga tanpa adanya penetapan sebuah standar internasional, NLP yang telah mengalami perpecahan selama tiga dekade terakhir dan tampaknya akan mengalami peningkatan lagi daripada penurunan dalam hal perpecahan.
Solusi
Jadi apa yang harus kita lakukan? Apa yang dapat kita lakukan sebagai praktisi NLP, trainer dan pemimpin yang peduli tentang kualitas NLP?
Pertama-tama dan yang terutama, kita sendiri dapat berlatih dan menunjukkan kualitas NLP yang lebih tinggi dalam pelatihan dan hidup kita.
Ini adalah hal pertama dan yang paling kritis. Cara terbaik untuk membuat semua NLP kualitas rendah menjadi kentara adalah mengkontraskannya dengan NLP berkualitas tinggi. Apa artinya ini? Itu berarti, di luar semua promosi dan klaim yang berlebihan, adalah benar-benar mengetahui berbagai model dan pattern serta memiliki keterampilan yang cukup dalam penggunaannya secara efektif. Ada dua hal yang diperlukan untuk NLP yang berkualitas : Pertama, pengetahuan yang luas dan menyeluruh mengenai bidang ini dan Kedua, kompetensi agar mampu mewujudkannya dalam sejumlah keterampilan.
Untuk bagian pengetahuan, ini berarti bahwa para trainer dan pemimpin harus terus belajar, membaca, meneliti, dan mengambil pelatihan tambahan. Ini harusnya mengingatkan kita akan suatu kontradiksi bahwa seorang trainer NLP yang tidak lagi belajar dan berkembang. Dan itu berarti tetap meng“update” pengetahuan, menghadiri Konferensi, membaca jurnal, mengikuti buku-buku yang diterbitkan dalam bidang ini. Untuk tidak melakukannya sesuatu yang menyiratkan adanya kesombongan tentang “tahu semuanya” yang bertentangan dengan semangat sejati dari NLP.
Dalam hal pengetahuan mengenai bidang ini, trainer harus tahu dari mana NLP berasal. Mereka harus tahu bahwa itu muncul pada awal tahun 1970 dari dua gerakan, gerakan Psikologi Kognitif dan gerakan Potensi Manusia. Model NLP awal muncul dari George Miller dan rekan-rekannya saat mereka meluncurkan gerakan Psikologi Kognitif, tahun 1956. Ini termasuk Noam Chomsky, Karl Pribram, dll. Dari sini muncul model bahasa NLP, yaitu Meta-Model sebagai versi Transformational Grammar, terima kasih kepada John Grinder. Dari sini dikembangkanlah model Strategi dari model TOTE-nya Miller.
NLP berkembang juga dari Gerakan Potensi Manusia (Human Potential Movement - HPM) Abraham Maslow dan Carl Rogers - sebagaimana halnya Bateson, Fritz Perls dan Virginia Satir bekerja bersama di Esalen pada tahun 1960 sebagai pelopor kunci dari HPM. Mereka mengambil ide-ide revolusioner dari Maslow dan Rogers - ide-ide yang hari ini kita sebut “Presupposition NLP”1. Dengan tidak mengetahui sejarah dan akarnya adalah sama seperti tidak tahu kita ini mengenai apa dan akan mengacaukan inti dan fokus dari NLP. Jika kita tidak tahu sejarah kita, kita ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan yang terburuk.
Pergeseran paradigma yang Maslow buat dari “sisi gelap sifat manusia” yang sakit, tidak sehat, terdistorsi, dan terluka ke sisi “terang sifat manusia” - sisi yang sehat, utuh, dan mencari yang tertinggi dan terbaik - pergeseran paradigma tersebut terletak jantung dari HPM dan juga NLP. Teori NLP yang terus tidak diperhitungkan dan diejek oleh Bandler dan Grinder sebenarnya adalah dasar teoritis dari kedua Kognitif Psikologi dan Self-Actualization Psikologi. Itulah keunikan NLP.
Sementara trainer dan praktisi NLP mengembangkan pemahaman yang menyeluruh dan komprehensif lebih dari apa yang kita miliki, tugas berikutnya adalah belajar untuk mengembangkan keterampilan yang jatuh keluar dari model ini. Mengetahui tanpa melakukan adalah sebuah bentuk dari ketidakmampuan. Mengetahui dapat menipu. Itu dapat menipu seseorang ke dalam asumsi keterampilan yang tidak ia memiliki. Sebagai pengujiannya, tentu saja, adalah kenyataan yang sebenarnya. Dapatkah Anda melakukan apa yang Anda tahu? Dalam hal ini, kita harus menutup celah “knowing-doing” dengan kompetensi dan keterampilan yang benar. Dan penelitian hari ini telah menunjukan secara gamblang bahwa sebuah kompetensi yang nyata adalah sebuah proses yang memakan waktu sepuluh tahun.2
Banyak yang menyebut dirinya sebagai NLP Trainer dan para praktisi benci akan hal ini. Mereka ingin segalanya mudah dan cepat. Tapi semuanya tidak mudah dan cepat. Dengan keterampilan yang telah dikembangkan sampai pada tingkat ahli, memerlukan disiplin dan Ericsson Anders menyebutnya sebagai “praktek yang disengaja.”
Kedua, untuk meningkatkan kualitas NLP di seluruh dunia kita perlu bersama-sama mempraktekkan apa yang kita ajarkan.
Jika kita percaya pada kelimpahan, kita harus berhenti mempraktekkan kelangkaan. Jika kita percaya pada kerjasama, kita harus berhenti mempraktekkan kompetisi. Jika kita percaya pada niat baik di balik tindakan, kita harus berhenti “memotong” orang lain dan mengkritik mereka. Ini adalah beberapa “virus pikiran” yang perlu kita tujukan kepada semua orang. Dan virus-virus ini telah membuat begitu banyak ketidakkongruenan dalam NLP sehingga tidaklah mengherankan orang-orang mempertanyakan motif dan kompetensi kita.
Selama mencari uang adalah motif pertama dan terbesar, dan kadang satu-satunya motif, dari para trainer dan pemimpin – maka NLP hanya akan dipandang sebagai sebuah usaha manipulatif. Kita harus meningkatkan motivasi dan tujuan di atas sekedar menghasilkan uang. Dan kita harus membawa keluar ego kita dari tujuan membanggakan diri. Ada terlalu banyak usaha dalam penciptaan seorang “guru-kingdom” atau sekte dalam NLP, membangun pengikut yang mengikuti mereka, bukannya membebaskan orang-orang untuk menemukan dan mengaktualisasikan potensi tertinggi mereka.
Sebagai anak dari Gerakan Potensi Manusia, NLP adalah bagian dari “psikologi humanistik” dan oleh karena itu kita harus bangga bahwa inilah warisan kita - dalam meningkatkan kesadaran dan ketrampilan dari setiap manusia di mana pun mereka berada sehingga mereka dapat mencapai nilai-nilai tertinggi dan visi dan mengaktualisasikan keterampilan terbaik mereka. Kecuali bila kita melakukan ini, kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah-masalah persaingan saat ini dan konflik.
Ketiga, kualitas dan pengalaman praktek NLP memerlukan pelatihan yang dapat membangun dan mengukur kompetensi yang benar.
Masalah yang tampaknya menghinggapi NLP adalah ide kecepatan. Ada ide yang mengatakan bahwa kita dapat melakukan banyak hal dengan cepat. Dan sementara hal ini benar untuk beberapa hal, tapi itu menjadi tidak benar untuk semuanya. Memang benar pola Fast Phobia Cure dapat mempersingkat waktu untuk penyembuhan fobia dari enam bulan menjadi sepuluh menit. Tapi disitulah letak masalahnya. Masalahnya adalah bahwa setiap masalah tidak berstruktur seperti struktur “stimulus-respon” fobia. Faktanya, sebagian besar masalah tidak seperti itu. Dan oleh karenanya, tidak akan ada “penyembuhan sepuluh menit.”
Banyak Trainer dan praktisi NLP telah melompat pada kesimpulan bahwa karena kita telah menemukan struktur dari satu pengalaman yang memungkinkan kita untuk secara radikal mempersingkat waktu, segala sesuatu di alam manusia adalah seperti ini. Ini adalah pemikiran keliru yang menciptakan delusi (pikiran atau pandangan yang tidak berdasar/rasional atau khayalan). Keadaan dan pengalaman sederhana seperti “stimulus-respon” dapat dilakukan dengan cepat, tetapi tidak begitu halnya dengan keadaan dan pengalaman yang kompleks. Tidak akan pernah ada “Penyembuhan Kesehatan dalam Sepuluh Menit “, “Pola Sepuluh Menit Menjadi Kaya”, “Sepuluh Menit untuk Kompetensi Kepemimpinan”. Keadaan dan pengalaman yang kompleks memerlukan waktu, belajar, latihan, perlu berlatih fokus dalam jangka panjang.
Akhirnya
Mampukah kita meningkatkan kualitas NLP di seluruh dunia? Saya percaya kita mampu dan sudah keharusan! Namun itu tidak akan terjadi dengan cepat atau mudah. Ini perlu upaya bersama dari massa praktisi NLP yang kritis untuk mengubah air pasang dan menurunkan citra negatif tentang NLP yang berlebihan. Banyak yang sudah melakukan sesuatu - kita perlu lebih banyak lagi untuk mewujudkan visi ini dan bergabung dalam upaya ini. Bersama-sama kita dapat melakukannya lebih baik daripada terpisah atau sendirian.
1L. Michael Hall, (2008). Self-Actualization Psychology. Neuro-Semantics Publications
2Ericsson, Charness, Feltovich, Hoffman, (2006). The Cambridge Handbook of Expertise and Expert Performance. NY : Cambridge University Press.

14 Mei 2010

Musik Untuk Kesehatan Otak


Musik Merupakan Kunci Ajaib, Yang Dapat Membuka Hati Yang Paling Tertutup
“Maria Von Trapp” (Ingat Film Sound of Music)
Oleh : dr. H. Jofizal Jannis, Sp.S(K)
Howard Gardner dengan teori multiple intelligent mengungkapkan bahwa musik merupakan salah satu bentuk kecerdasan otak yang bermanifestasi kedalam hidup sehari-hari. Jika orang mende-ngarkan musik, maka suara dan irama yang didengar memasuki liang telinga dan menggetarkan gendang telinga. Getaran itu diteruskan ke tulang tulang pendengaran menuju saraf pendengaran dan dilanjutkan ke pusat pendengaran di otak. Ketika mendengarkan lantunan musik tersebut selanjutnya diteruskan ke sistem limbik yang merupakan pusat emosi manusia. Dari sana irama diolah dan emosi akan dipengaruhi sesuai dengan   respon terhadap keadaan yang dialami seseorang. Saat itu manusia akan mendengar musik tidak hanya dari aspek rasionalitas otak kiri, juga melihat dan mendengar dengan melakukan pendekatan emosi dan intuisi pada otak kanan.
Lantunan irama dan suara musik yang menyentuh sistem limbik akan diterjemahkan dengan perasaan senang dan bahagia akibat penyampaian irama yang merupakan pesan diujung ujung saraf. Seluruh peran akan dikonsolidasi dalam bentuk gelombang alfa diotak, orang menjadi rileks namun tetap siaga.
Disisi lain, diketahui juga bahwa musik mempunyai efek pengobatan untuk ketegangan, kecemasan dan depresi sehingga timbul semangat hidup. Coba perdengarkan lagu lagu lembut dan keras, setelah itu gunakan seluruh kemampuan otak kiri untuk memahami lirik demi lirik dan pergunakan otak kanan, imajinasikan dan nikmati lantunan irama yang diterima oleh otak.
 Detak Jantung
Sejak dalam kandungan, yang kita dengar setiap hari adalah detak jantung ibu seolah olah mendengarkan ketukan irama musik. Setelah lahir dentuman jantung yang didengar bergetar setiap hari tiada henti tanpa dirasakan.
 Beberapa telaah kepustakaan me-nyatakan bahwa musik dan lagu klasik yang rata rata memiliki ketukan 60x/menit dapat membawa otak pada keadaan tenang sehingga meredakan nyeri dan stres. Setelah itu dapat membantu melepas emosi yang tidak nyaman dan pada gilirannya dapat menstimulasi berfikir, kreativitas, imajinasi dan sensitivitas terhadap dunia sekeliling.
Musik lembut memiliki efek yang mencengangkan karena irama lembut dan indah dengan kombinasi warna bunyi yang berbeda, mengalun dalam perpaduan yang harmonis akan menstimulasi emosi seseorang. Selain itu musik lembut akan berbeda responnya dibandingkan dengan musik keras yang dapat mengganggu konsentrasi dan labilitas gelombang otak sehingga secara teori dapat mencemaskan.
 Kesehatan otak
Setelah secara fisik manusia sehat, maka langkah selanjutnya adalah me-nyehatkan otak de-ngan cara melatih aerobik dan neurobik. Beberapa hal dapat mempengaruhi kesehatan otak termasuk makanan, gizi, dan informasi, latihan dan suasana hati termasuk santai dan spiritual disertai stimulasi kecerdasan melalui musik.
Emosionalitas dan suasana hati manusia sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan dalam hal ini apa yang dilihat, dirasakan, dan didengar semasa detik kehidupan ini.
Musik tidak diragukan lagi mempunyai kemampuan stimulasi untuk otak kanan.
 Rangsangan otak kanan sepenuhnya mempengaruhi imajinasi dan intuisi manusia sehingga mampu membuat hubungan dengan komponen rasio-nalitas otak kiri. Kemampuan dan kesehatan otak menjadi primer dalam menghadapi persaingan global dewasa ini. Tidak disangka lagi lan-tunan irama musik akan memacu otak untuk menjadi jauh lebih sehat karena mampu mengatasi ketega-ngan dan kecemasan yang timbul dari lingkungan.
Sample Image
 Terapi Musik
Musik (suara, irama, melodi dan harmoni) digunakan untuk memfasilitasi dan memacu komunikasi, hubungan, belajar, mobilisasi, ekspresi dll, sehingga memacu kemampuan fisik, emosi, mental.
Terapi musik berguna untuk mengembangkan potensi dan fungsi individu sehingga mempunyai kemampuan lebih baik untuk integrasi intra dan interpersonal dengan konsekuensi kualitas hidup yang lebih baik untuk prevensi, rehabilitasi atau terapi.
Suku Narayo Indian percaya bahwa menyanyi mempunyai arti sentral untuk harmonisasi antara tubuh de-ngan jiwa dan lingkungannya.
Musik telah menjadikan bagian yang tidak terpisahkan bagi manusia. Sewaktu janin setiap hari yang didengar adalah detak jantung. Musik merupakan susunan bunyi yang diterima individu dengan respon yang berbeda berdasarkan lokasi, budaya dan selera seseorang. Secara definitif musik adalah bunyi yang dianggap enak oleh pendengar walaupun tanpa  wujud yang jelas. Keterlibatan musik dengan kehidupan manusia didunia telah banyak diteliti. Musik dapat mencegah ketegangan hidup, meningkatkan selera makan, untuk restorasi pasien yang sakit, memicu gairah hidup dan seksual dan mempermudah proses kelahiran janin.
Jadi efek musik berhubungan erat de-ngan psikologi manusia sehingga fenomenal musikal yang emosional akan mempengaruhi para pendengar dan secara umum akan merangsang kecerdasan musical.