07 November 2010

Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…

MASA DEPAN TERGANTUNG DARI APA YANG DIPIKIRKAN SEKARANG.
Artikel ini ditulis oleh Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK 
dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan 
Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Berikut ini artikel selengkapnya:

Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang 
tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. 
Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang 
baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke 
desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai 
tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari 
yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat 
membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga 
fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia 
pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran 
yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun 
apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan 
lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, 
maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan 
pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping 
ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. 
Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual 
secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran 
intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam 
pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam 
dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar 
karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. 
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang 
psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College 
walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu 
mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai 
media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan 
terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain 
adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat 
orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada 
seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang 
Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan 
lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak 
masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara 
musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan 
bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan 
kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah 
dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah 
menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah 
buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk 
universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun la menjadi guru matematika di 
Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius 
karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga.

Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. 
Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu 
yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda 
dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang 
dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa 
yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu.

Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia 
dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang 
begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor 
kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh 
karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early 
Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap 
orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi 
anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % 
bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi 
belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam 
memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat 
mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.

“Early Ripe, early Rot…!”

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di 
Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan 
bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera 
mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka 
mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka 
memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). 
Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia 
di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan 
berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah 
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era 
Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk 
membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada 
berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka 
butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, 
seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The 
Process of Education” pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk 
belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi 
kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject 
can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any 
stage of development”.

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak 
pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara 
memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… 
early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di 
rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan 
sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat 
praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep 
“kesiapan-readiness ” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat 
banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on 
learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan 
rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat 
anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang dewasa “. 
Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya 
orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti 
orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait 
dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve 
yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore 
hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang 
dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah 
memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor 
emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya 
kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang 
tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai 
layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. 
Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua 
hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan 
(intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, 
terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku 
anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak 
sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak 
laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child I’M NOBODY’S CHILD 
I’M nobody’s child I’m nobodys child Just like a flower I’m growing wild No 
mommies kisses and no daddy’s smile Nobody’s louch me I’m nobody’s child.

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif 
lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka 
tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. 
Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood”. Lu belum 
tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja 
pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, 
drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana 
pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian 
dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan 
emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan 
waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam 
kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang 
berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. 
Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga 
“baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu 
muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, 
ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku 
romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga 
pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan 
mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. 
Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala 
bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan 
diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak 
mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di 
lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva “be special ” daripada “be average or 
normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi 
“to excel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika 
anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua 
untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental 
aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan 
banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak super—”SUPERKIDS’ “. Cost merawat 
anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling 
berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”. 
Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri 
anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika 
pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa 
kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan 
menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai 
gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “mis-education” 
terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan 
berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)


Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil 
mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat 
baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat 
anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan 
ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir 
tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang 
baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari 
kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya 
baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program 
eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak 
mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu 
saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai 
merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ” 
atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK )
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. 
Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri 
dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah 
dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang 
baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur 
menjadikan anak-anak mereka “Superkids “, apabila si anak memperlihatkan 
kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke 
sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa 
pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok 
ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di 
sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli 
dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS )
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi 
kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke 
berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti 
Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . 
Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes 
kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih 
kemenangan dan menjadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan 
anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan 
melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan 
anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba 
pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor 
menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, 
mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua 
masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.

Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. 
Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas. Banyak 
kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold 
medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam 
usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau 
kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia 
glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar 
narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang 
setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan 
banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” 
yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua 
berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali 
menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu 
dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai 
anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di 
usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang 
bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan 
anaknya seorang “superkid” –seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu 
dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan professional di bidang sosial dan 
kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan 
di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang 
tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok 
ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” –earlier is better”. 
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. 
Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka 
sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai 
lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi 
kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar 
anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar 
keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan 
anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati 
tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, 
kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep 
“Superkids”. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar 
dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka 
melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya 
“Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini 
dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat 
marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat 
situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. 
Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki 
pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. 
Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh 
karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai 
kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan 
sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok 
diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh 
kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant 
dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat 
Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan 
Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” 
karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam 
Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents–( ORTU NGERUMPI )
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka 
terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak 
memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan 
kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.

Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina 
hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan 
ketidakpatutan dalam mendidik anak- anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” 
yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam 
kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika 
mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan 
kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk 
memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai 
“Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya 
kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang 
bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka 
cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. 
Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan 
penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” 
dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang 
nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang 
tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang 
disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan 
menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar 
segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak 
dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga 
menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias 
dalam kehidupan belajar.

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut 
kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses 
dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan 
kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri 
kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak 
yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau 
lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan 
indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal 
tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang 
tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila 
seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh 
kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan 
indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan 
satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga 
terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk 
daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan 
tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, 
ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam 
bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator 
kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas 
sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar 
terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku 
pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi 
pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam 
menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa 
potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani 
pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan 
tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.

Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi 
sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR 
yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang 
dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku 
pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan 
apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka 
sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan 
yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum 
persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. 
Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah? dengan tugas-tugas 
dan PR yang menumpuk….

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk 
menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. 
Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa 
sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. 
Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu 
apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak 
mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan 
pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan 
bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya 
begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran 
(Freire,1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan 
sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan 
persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak— merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN”
Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak 
dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab. 
“(Nature versus Nurture) bagaimana ?” Karena ada dua pengertian kompetensi. 
kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang 
dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak 
sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson 
(psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi 
apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. 
Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui 
pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen 
healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and 
I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of 
specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even 
beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, 
and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah 
mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah 
kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Di mana 
guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar 
Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. 
Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger 
kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not 
the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… 
simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it 
has paid off in New Yersey.”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor 
Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai 
anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka 
bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa 
pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan 
pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan 
kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak 
seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif 
pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara 
terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu 
melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan 
unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!. 
Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang 
berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus 
merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang 
yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan 
-”curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. 
Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan!. “Empty Sacks will never 
stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui 
kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara 
bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. 
Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan 
semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru 
sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Di mana mereka 
mendidik anak menjadi “good and smart ” terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik 
mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa 
mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan 
cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses 
mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan 
emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam 
untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1 
percent inspiration and 99 percent perspiration “.

Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu 
proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di 
sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka 
sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah 
mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa 
kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati 
sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari 
pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara 
kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan 
yang baik ….

PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang 
hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan 
reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara 
serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. 
Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan 
anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun 
jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek 
kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada 
anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomena yang 
sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak 
karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka 
mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.